Tampilkan postingan dengan label IELTS Practice. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IELTS Practice. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Melatih Ingatan dengan Memrise

Melatih ingatan dengan Memrise


Siang ini saya iseng-iseng baca laman bbc.co.uk pada bagian ’future’. Setelah di-klik, ternyata ada banyak tulisan di dalam bagian itu. Mulai dari mana ya? Inilah pertanyaan yang muncul saat itu karena banyak sekali tulisan yang menarik. Akhirnya, saya putuskan untuk memilih melalui fitur artikel terpopuler yang dipilih oleh editor. Fitur yang ditampilkan dalam peringkat tersebut berisi lima tulisan yang menarik. Ada tema psikologi, agama, pendidikan, dll. Nah, ada satu judul yang menarik saya dalam daftar tersebut: ‘Hack your memory, learn faster’. Hack? apakah aktivitas peretasan kini sudah merambah pikiran manusia? Tanya saya dalam hati. Ok, itu pertanyaan bodoh sebenarnya. Setelah beberapa saat mencerna, ternyata maksud dalam judul tersebut sangat jelas: cara meningkatkan kemampuan otak. Wah, pas sekali. Saya sedang kesusahan mengingat kosa kata bahasa Inggris untuk tes IELTS. Hehe.

Sampailah saya pada laman dengan judul tadi. Beberapa tulisan saya baca dan semua berkaitan dengan cara meningkatkan daya ingat. Ada tulisan yang menjelaskan bahwa imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan, tulisan yang menjelaskan tentang metode mengingat yang efektif dan sebaliknya, dan mengingat kata dalam jumlah banyak. Nah, yang terakhir ini menarik karena tipsnya dibagikan oleh seorang pemenang dalam kompetisi menghafal, namanya  Ed Cooke. Dia merasa gelisah sehingga menciptakan sebuah laman situs tempat mengasah otak: Memrise.

Segera saya mendaftar untuk dapat merasakan latihan dalam laman tersebut dan hasilnya luar biasa! Memrise menwarkan banyak materi untuk latihan dengan fitur yang menarik. Saya agak susah menjelaskannya karena banyak sekali yang bisa dipelajari di sini. Untuk lebih jelasnya, langsung kunjungi lamannya. Sangat bermanfaat!

Senin, 26 Januari 2015

Tes IELTS

Mengerjakan tes IELTS


Masih tergambar jelas dalam ingatan saya, waktu itu hari Sabtu 14 Desember 2014 saya memakai kemeja kota-kotak biru, blue jeans, dan sepatu kets. Hari itu merupakan hari yang penting karena kemampuan bahasa Inggris saya akan diuji dalam tes IELTS. Pukul 07.00 saya berangkat ke lokasi tes di Jl. Simanjuntak, Yk, bersama seorang teman yang luar biasa. Mengapa pagi sekali? Panitia tes lah yang meminta kami, peserta tes, untuk hadir jam 07.30.

Pada awalnya, saya pikir tes akan segera dimulai, tapi ternyata baru dimulai pada pukul 09.30. Ada apa gerangan? Ternyata masih ada yang harus dilakukan peserta tes, yaitu pengambilan gambar dan finger-print¬. Oya, pada saat dilakukan kedua hal tadi, peserta akan dikumpulkan di satu tempat dan diberi nomor peserta yang harus dijaga. Lainnya adalah seputar teknis pelaksanaan tes yang membutuhkan perhatian ekstra karena penguji yang membacakan aturan sangat disiplin dalam menyampaikan aturan tersebut.

Tibalah saat mengerjakan. Ruangannya sangat dingin tetapi kualitas sound sangat baik sehingga dapat terdengar dengan jelas. Oya, sesi listening dikerjakan dengan cukup baik dan dengan sedikit gugup. Saran saya, kerjakanlah dengan se¬-rileks mungkin. Reading sesuai dengan yang saya prediksi selama ini, masih susah untuk dikerjakan karena banyak kata-kata yang tidak saya ketahui artinya. Setelah itu, saya melakukan kesalahan kecil yang berdampak besar pada sesi Reading. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa sesi Writing terbagi ke dalam dua tugas, yaitu task 1 dan task 2. Saya lupa bahwa dalam sesi ini tidak ada  pemberitahuan untuk pergantian task, maka terjebaklah saya sehingga hasilnya kurang maksimal. Speaking saya lakukan dengan cukup baik.
Hal yang saya pelajari dari pengerjaan tes ini adalah bahwa persiapan, baik dengan latihan maupun lainnya, sebelum mengerjakan tes ini mutlak diperlukan karena akan memberikan bantuan baik secara kasat mata maupun tidak. Hehe. Serius.

Kamis, 22 Januari 2015

The map of Middle East
Source


Indonesia is a country that actively involve in various peace processes around the world as the commitments of its foreign policy which are independent and active and also commitments to the 1945 Constitution to remove any occupation and colonialism over the world and participate in the establishment of the peace of the world. One area of Indonesia’s major conflict concern is Palestine which is still fighting for the independence of its homeland over the ongoing Israeli occupation since 1948.

Indonesia's preoccupation with the Palestinians is not only be the work of government. That role even touch the grass roots of society who often give their hands, both material and non-material, to the Palestinian people. This proves that the people of Indonesia have participated in carrying out the mandate of the 1945 Constitution and to support Indonesia in the Palestinian-Israeli peace process.

Achievement of peace between the two sides involved in the conflict can be realized in various ways; political and non-political. Political way can be reached by developing policies of both countries, diplomacy, and so on. Meanwhile, a non-political, academic fields, for example, can be reached by examining the conflict from a variety of mediums, literature as one of the example, with the hope of generating a thorough understanding of the conflict as a consequence of the assessment done in the several viewpoints.

Literature offers the other side of the conflict that often escape the attention of the general public and policy holders. For example, through the analysis of the poem “Jundiyyun Yahlumu Biz-Zanabiqil-Baida” from the anthology Akhiru al-Lail by Mahmud Darwisy can be concluded that the an Israeli army aspires of peace for Palestine and Israel (Vebriyantie, 2012). Other studies of the poem “Risalatun min al-Manfa” in the anthology Auraqu az-Zaituni by the same poet lead to the conclusion that the life of Palestinians in exile as a dead person who do not have a price at all (Aaisyah, 2014). Thus, the literature also took part in the establishment of world order.

After the completion of the study, the knowledge gained is expected to be applied in and contributed to Indonesia. The expectations from the studies that hopefully can be applied in Indonesia are projected as follows.
1. Generating advantage of the social and political phenomenon in the Middle East through the analysis of literary works to be applied in Indonesia
2. Taking part in the peace process in the Middle East, particularly in the Palestinian-Israeli
3. Acquiring a real understanding of the roots of the Israeli-Palestinian conflict so that it can be wise to react
4. Being a centre of reference in the knowledge of the Middle East with the interdisciplinary field
5. Enriching treasures of science



List of References

Aaisyah. 2014. The Meaning of Poetry  “Risalatun min al-Manfa” in the Anthology Auraqu az-Zaituni by Mahmud Darwisy:Semiotic Analysis. Thesis.

Vebriyantie, Putri. 2012. The Meaning of Poetry “Jundiyyun Yahlumu bi az-Zanabiqi al-Baida`a”in the Anthology Akhiru al-Lail by Mahmud Darwisy: Semiotic Analysis. Thesis.



















Students walking in the crowd


“Universities should accept equal number of male and female students in every subject. To what extent do you agree or disagree?”

The number of accepted students in a university is sometimes unequal between male and female. This matter  somehow cause a debatable point whether the acceptance of male and female students should be equal or not in every subject. Therefore, offcourse, will be pros and cons on this issue.

Those who agree with the equality might underlie their argument on the right to freely choose the subjects based on the student’s interest. In this case, the restriction on the student acceptence might be seen as a right violence and a force since every student, male or female, has his/ her right to choose any field of study. 

Others argue in considerations that not every subject suit and match male or female. Nursery field, for the example, might only qualify female and so with subject of civil engineering which probably require male ability that happen only to the male student. Those who stand for this side see that male and female has a special character which automatically impacts to the choice of qualified field of their study. Thus, any restriction to the male and female become more important.

These contradictive views have its consideration. Each has its own considerable argument. Nevertheless, the decision to give young student right to choose their interest would be a wise way so that they can concentrate to their study without any hesitation.



Rabu, 21 Januari 2015

Attractive choices: college, work, or travel?


“In some countries, young people are encouraged to work or travel for a year between finishing high school and starting university studies. Discuss the advantages and disadvantages for young people who decide to do this.”

Some countries encourage their adults to get work or go travelling to fill their a-year-break-time after graduating from the high school and before ennrolling to the University. This policy-like, however, implicates the advantages and disanvantages for those young people.

University is oftenly considered as a mature and adult world. This common perception, then, is consequently followed by some belief that to face a university need an adaption thus young people do not get shocked as they enter the univeristy world. Then, based on this point of view, the encouragement to work or travel is originated and applied to the young people. It is invitable to not say that this policy-like is unseful since the facts tell the facts for those who need  any preparation, such as gathering money, looking for an experiment, and any other. Meanwhile, young people who prefer to travel might experience a different side of experience. Those who prefer to travel might underlie their consideration on the need to widen their view of the world in order to build a universal understanding or simply visiting a new place. These examples are obvious as the advantages.

On the other hand, a choice to enroll immediately to the university can not always be considered as a unreasonable choice since an attempt to acquire a higher level of education will always be an emphasis. Young people who decide to immadietly go to the university might think that it is better to get to study as soon as possible hence they can continue to the higher level of study.

Overall, the advantages and disadvantages young people generate depend on the purpose of those young people. Any activities taken might be a disadvantage activity if they do not utilize it in a appropriate way. Meanwhile, the advantages might be generated if those young people do otherwise.


Sekilas tentang IELTS

International English Language Testing System

Bagi teman-teman pemburu beasiswa atau yang tertarik dengan bahasa asing, pasti tidak asing lagi dengan IELTS ini. Sistem tes bahasa Inggris yang diselenggarakan dari kerjasama ESOL Cambridge, IDP, dan British Council tersebut memang memiliki keunikan tersendiri dilihat dari format tesnya dan skornya. Kita, termasuk saya, yang berada di Indonesia mungkin sudah tidak asing dengan TOEFL dan mungkin mengira bahwa satu-satunya skema penilaian kemampuan bahasa Inggris hanya diukur melalui TOEFL ini.

Bagian tes dalam IELTS ini sama dengan TOEFL IBT yang memiliki empat bagian, yaitu Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Meskipun demikian, IELTS memiliki format dan sistem penilaian yang berbeda. Listening dalam IELTS banyak menggunakan British English sehingga terkadang bagi yang belum terbiasa akan sulit untuk menangkap maksud, bahkan kata-kata, dari sebuah pembicaraan atau pembacaan tes. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam bagian ini adalah pernyataan yang menjebak. Jawaban dari pertanyaan yang dicari kadang muncul dalam bentuk yang tersirat. Oleh karenanya, alangkah lebih baiknya jika kita benar-benar pasang telinga. Jebakan tersebut dapat dihindari dengan, salah satunya, berlatih soal-soal IELTS secara intensif.

Bagian kedua dari tes ini adalah Reading. Pada bagian ini, jawaban akan sangat mudah ditemukan dalam teks jika kita benar-benar memahami pertanyaannya. Dalam bagian ini pun penuh dengan jebakan. Seringkali, kita tidak akan menemukan kata kunci dalam kata yang sama dalam pertanyaan. Kata kunci tersebut biasanya muncul dalam bentuk yang lain dengan arti yang sama (sinonim) sehingga penguasaan persamaan kata dapat berguna pada bagian ini.

Bagian selanjutnya adalah Writing. Dalam bagian ini terdapat dua tugas, yaitu Writng Task 1 dan Writing Task 2.  Hal yang perlu diperhatikan dalam mengerjakan tulisan pada bagian ini adalah jumlah kata pada masing-masing tugas. Pada tulisan pertama, jumlah kata minimal yang diharuskan adalah 150, sedangkan dalam tulisan kedua, jumlah kata minimalnya adalah 250. Jika kata yang ditulis di bawah kedua jumlah tersebut, maka kita akan kehilangan skor. Jumah skor pada bagian ini lebih banyak dalam Writing Task 2, sesuai dengan jumlah katanya. Banyak berlatih menulis esai sangat membantu dalam pengerjaan pada Writing ini dan menghafal kosa-kata “ilmiah” juga sangat membantu.

Bagian terakhir dari IELTS ini adalah Speaking. Seperti terjemahannya, pada bagian ini kita akan diminta berbicara. Pada Speaking ini, tes dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian saat kita menceritakan tentang hal umum, menceritakan tentang diri kita, dan menceritakan tentang hal yang abstrak, biasanya tentang pendapat kita tentang suatu hal. Salah satu latihan yang dapat dilakukan adalah dengan berbicara di depan cermin atau mencari partner percakapan di dunia maya.